______ Let's ______

TRAVEL. DIVE. EAT. FLY. WRITE. 

_________ Because Everything is Awesome _________

 

 

 

April 16, 2015

Namaste Nepal!

" Namaste means a respectful greeting said when giving a Namaskar" 

Saat di bangku sekolah dulu dan ketika belajar tentang bendera-bendera di dunia, kita pasti menemukan satu bendera yang bentuknya paling berbeda dari negara yang lainnya. Bentuk bendera dengan 2 segitiga siku-siku ini ternyata bernama Nepal. Dulu saya tidak terpikirkan tentang negara ini padahal puncak tertinggi di dunia berada di Nepal. Mendengar everest dan Himalaya pun sudah menjadi Trauma tersendiri sehingga membuat Nepal menjadi negara Unknown bagi saya di saat itu.

Seri perjalanan 14 hari backpacking ke Nepal bisa diliat di tautan berikut :

Mengapa saya berani ke Nepal?
Kisah ini bermula ketika teman saya menunjukkan video tentang trekking ke Annapurna Base Camp. Video itu menunjukkan bahwa trekking disana tidak sesulit yang saya pikirkan sebelumnya. Mulailah saya mencari berbagai informasi di internet terkait hal ini. Komentar-komentar positif orang-orang di seluruh penjuru dunia di dunia maya membuat saya semakin optimis bahwa,

"My next destination is Nepal"

Mulailah saya mencari partner dalam perjalanan kali ini yaitu Tegar (orang yang menunjukkan video tadi) dan Teguh. Kedua orang ini memang sudah ahli dalam hal mendaki gunung jadi yang perlu saya khawatirkan justru saya sendiri yang masih amatiran hehe.. Saya awalnya mau menamakan grup kami bertiga ini sebagai trio macam tapi terlalu norak nampaknya, the three musketeer...ah terlalu keren, 3 diva...ini laki-laki semua woy! dan akhirnya saya memilih untuk dipanggil "kami". tidak penting haha..

Itinerary, perlengkapan, tiket dan fisik sudah dipersiapkan secara matang. Kami siap untuk berpetualang di Nepal!

Tentang Nepal
Pepatah mengatakan "tak kenal maka tak sayang". Sedikit bercerita tentang negara Nepal terlebih dahulu meskipun dengan modal hasil jalan-jalan dan googling hehe..

Seperti yang kita tahu bahwa Nepal, Negara yang berbendera 2 segitiga siku-siku, merupakan negara yang terkunci diantara daratan China dan India atau gampangnya mereka tidak memiliki wilayah pantai dan laut. 8 puncak tertinggi dunia berada di Nepal dan ini merupakan salah satu daya tarik wisata di Nepal. Gunung Himalaya sendiri merupakan hasil tabrakan antara daratan india dan euroasia. Tabrakan itu masih terus berlanjut sampai sekarang dan beberapa kali mengakibatkan gempa di Nepal. Gempa seringkali mengakibatkan longsor di pegunungan jadi tetap waspada.

Pariwisata menjadi salah satu sektor ekonomi penting di Nepal dan salah satu pendapatan mayoritas di Nepal selain agrikultur dan industri. Kalau dilihat sepanjang jalan memang banyak tempat-tempat kursus bahasa dan saya berpikir hal ini untuk mendukung pariwisata mereka.

Nepal juga banyak mengekspor tenaga kerja ke luar negaranya salah satunya negara-negara di Asean. Pantesan saja pas di pesawat isinya orang lokal semua. Orang-orang Nepal pun memiliki beberapa ras, ada yang memang sudah hidup sejak lama di lembah Kathmandu, migrasi dari China dan India. Bagian utara yang mayoritas pegunungan biasanya wajahnya mirip-mirip orang Tibet/China dan yang selatan cenderung seperti orang India. Ada juga orang-orang bule dan dari negara asia lain seperti Jepang, Korea atau Melayu...ah itu mah turis. Akan sangat familiar dengan kata Namaste ketika berada di Nepal. Namaste itu sapaan lokal ketika bertemu seseorang. Kadang sembari melekatkan kedua tangan ah..gimana bahasa yang bakunya ya.

[26 Maret 2014]
Penerbangan Kuala Lumpur - Kathmandu dengan segala keunikannya
Tidak ada yang istimewa dari pesawat yang kami tumpangi ke Nepal, hanya maskapai Airasia saja, Kami tidak duduk di sebelah wanita cantik yang bisa dimodusin atau seorang penjelajah dengan cerita-cerita hebatnya. Pesawat ini mayoritas justru terisi penuh oleh orang-orang Nepal itu sendiri. Ternyata memang banyak orang Nepal yang berkerja di wilayah ASEAN. Merekalah yang membuat perjalanan kami cukup unik.

Saya pikir tidak semua orang di dalam pesawat ini sering berpergian dengan pesawat. Suatu ketika seseorang sengaja menekan tombol lampu di atas kabin tanpa alasan. Tentu saja cahaya redup akan muncul dan menerangi orang di bawahnya. Orang-orang atau teman-temannya di sekitar nampak exited akan hal itu sehingga mereka semua pun ikut-ikutan dan beberapa kali malah salah menekan tombol, tombol untuk memanggil Pramugari. Dongkol-lah beberapa pramugari dibuatnya.

Lain lagi ketika tiba-tiba saja mereka berdiri dan berbondong-bondong melihat keluar jendela yang mungkin bisa membuat pesawat ini oleng. Turis-turis lain dan termasuk saya pun jadi sedikit panik. Kebingungan apa yang menarik mereka untuk melihat ke luar padahal tidak ada apa-apa "Apa ada asap atau patah sayapnya?", "Ada UFO kah?" dan berbagai hal negatif yang muncul di kepala. Sampai sekarang hal ini masih jadi misteri. Ajaibnya sampai bandara mau mendarat pun masih saja berbondong-bondong melihat jendela dan jalan-jalan keliling dan tentu saja bikin emosi para pramugari.

Selamat datang di Kathmandu
Tribhuvan International Airport
Dengan didampingi oleh hujan dan angin, pesawat kami mendarat di bandara dengan selamat. Alhamdulillah! kesan pertama bandara internasional Tribhuvan ini adalah bangunan lama. Transportasi dari pesawat ke imigrasi yaitu menggunakan bus. Sampai di imigrasi, hampir semua turis diwajibkan untuk mengurus Visa on Arrival (VOA). VOA Nepal tidak sulit, cukup mengisi form yang disediakan oleh imigrasi, menempelkan 2 x pas foto dan membayar 25 USD untuk 15 hari atau 40 USD untuk 30 hari. Saya cukup 25 USD saja. tidak sampai 5 menit...simsalabim sulap selip susulapan! VOA sudah bisa langsung ditempel di paspor. dan pada akhirnya Selamat datang di Kathmandu.

Kathmandu bagi saya seperti kota tua. Saya tidak menemukan sama sekali gedung-gedung pencakar langit layaknya di ibukota-ibukota negara lain. Bangunannya pun beberapa masih terbuat dari batuan yang kadang dibiarkan warna aslinya ada. Kabel-kabel listriknya pun acak-acakan dan kadang saya bingung bagaimana teknisi melakukan perbaikan. Kebanyakan kendaraan adalah buatan India. Merek-merek seperti Pulsar atau Tata sangat sering terlihat berseliweran di jalan.

Polisi lalu lintas
Hal menarik yang saya perhatikan adalah Lalu Lintas. Kota ini memang padat dan kadang sedikit macet. Ada yang terlewatkan dari penglihatan saya yaitu lampu lalu lintas...jarang sekali saya menemukan lampu lalu lintas disana dan sekalinya ada pun ga nyala haha. Fungsi lampu lalu lintas disana digantikan oleh pak polisi yang berdiri di tengah-tengah perempatan. Dia yang memberikan aba-aba mana jalur yang boleh jalan dan mana yang harus berhenti. Polisi disini memang bekerja cukup keras.

Cara mendapatkan TIMS di Kathmandu
Hujan masih saja deras, tidak ada pilihan lain selain menggunakan taksi seadanya dari bandara.,Sedikit mahal memang tapi tidak seberapa. Taksi hingga Thamel dibandrol seharga 700 NPR untuk bertiga. Dari bandara, kami menginstruksikan supir taksi untuk membawa kami ke cabang TAAN di Thamel untuk membuat TIMS atau gampangnya izin pendakian. Membuat TIMS sangat mudah cukup membayar 2000 NPR dan memberikan Pas foto yang nantinya akan ditempelkan di dokumen TIMS saya. Awalnya kami juga mau mengurus aplikasi ACAP namun ACAP hanya bisa didapatkan di  Nepal Tourism Board yang jaraknya cukup jauh dari Thamil atau di Pokhara nanti. Bisa saja kami memanfaatkan jasa biro jasa tapi bagi saya mengurus sendiri itu sensasi bangganya lebih dapet. biro jasa itu semacam cheating  buat saya haha.

Thamel, Kathmandu
Para turis-turis kere
Nasi goreng vegetarian dan
botol kosong sisa orang
Kami bermalam di hostel bernama Alobar1000. Hostelnya cukup nyaman dan tidak terlalu berisik di malam hari. Terdapat tempat nongkrong dengan konsep ruangan terbuka di lantai atas lengkap dengan restoran. Beberapa turis asing terlihat bercanda tawa disana dan salah satunya kami bertiga. Kami mungkin satu-satunya wajah asia saat itu.

Kami memesan Nasi goreng vegetarian disana dan melakukan perbincangan dengan turis-turis lainnya. Ternyata memang banyak turis disini menghabiskan waktu berbulan-bulan di Nepal. Bagaimana cara mereka hidup? beberapa memang hasil menabung dan keluar dari pekerjaan lalu traveling keliling dunia. Cara ini sebenarnya sedikit beresiko untuk orang kita meskipun ada prinsip "You Only Life Once". Beberapa juga ada yang nyambi bekerja sepert mengajar dan menjadi sukarelawan. Dengan menjadi sukarelawan, beberapa dari mereka berharap mendapatkan fasilitas penginapan dan makanan. Kami bertemu dengan salah satu turis yang mengeluh dikarenakan tidak mendapatkan fasilitas tersebut. Ya elah bro....yang ikhlas kenapa.... Sangat menarik jika mendengar cerita-cerita perjalanan mereka yang kadang tidak terpikirkan bahwa orang asing sehemat dan senekat itu.

[27 Maret 2014]
Selamat datang di Pokhara
Tourist Bus
Tujuan hari kedua adalah Pokhara. Menuju Pokhara bisa menggunakan Bus Lokal dan Bus Turis. Kebanyakan turis biasanya memilih Bus turis seharga 800 NPR yang Posisi pemberhentiannya dekat dengan Thamel (daerah tempat nongkrong turis) dan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Bus Turis berangkat setiap hari jam 7.30 pagi dan tiket kami pesan di hostel tempat kami tinggal. Sebenarnya tiket bisa didapatkan on the spot.

Perjalanan menuju Pokhara sebenarnya tidak ada yang istimewa paling saya sempat excited saat melihat bus kotak warna-warni lewat. Butuh waktu sekitar 7 jam untuk sampai di Pokhara. Bus akan berhenti sebanyak 2 kali dan 1 kali untuk makan siang. Perjalanan berkelok-kelok karena areal pegunungan dan sepanjang jalan memang banyak lahan-lahan pertanian/perkebunan. Pada akhirnya 7 jam pun berlalu dengan sangat lama dan kami pun tiba di Pokhara. "Namaste Pokhara!"

Cara mendapatkan ACAP di Pokhara
Lokasi Nepal Tourism Board di Pokhara
Kami tidak tahu akan diturunkan dimana di Pokhara. intinya di terminal yang ada di Pokhara. Lokasi terminal tidak terlalu jauh dari Pusat kota Pokhara, cukup berjalan 30 menit saja. Awalnya kami bingung apakah menggunakan taxi atau berjalan kaki. Kami memilih berjalan kaki dengan modal peta dari buku lonely planet alakadarnya dan bertanya pada orang lokal. Saya menolak semua tawaran taksi saat itu. Saya masih percaya kepada insting saya hehe.

Tujuan Pertama kami adalah mencari lokasi Nepal Tourism Board. Kabarnya lokasinya dekat dengan Terminal bus tadi dan memang cukup berjalan sekitar 15 menit. Posisinya agak masuk ke dalam di belakang kantor polisi. Kantornya tutup jam 4 sore, untungnya kami tiba di sana jam 3 sore jadi masih sempat. Membuat ACAP sama seperti membuat TIMS dan harganya pun sama-sama 2000 NPR. Beres semua urusan kami kembali ke jalan utama dan bergerak menuju pusat kota Pokhara.

Berkah makanan halal
Tampa sengaja kami menemukan rumah makan halal di Pokhara yang bernama Pokhara Halal Food Land. Lokasinya didalam komplek pertokokoan di sepanjang jalan Lakeside jadi acuannya cuma plat nama kecil saja di gerbang masuk komplek pertokoan itu. Ada 4 orang pegawai dan 1 kasir yang nampaknya yang punya restoran ini. Harganya sedikit lebih mahal dari restoran yang lain dengan level yang sama tapi demi nafsu karnivora yang sudah ditahan selama 2 hari, Menu Dal Bath + Ayam kari seharaga sekitar 300 NPR dan Lassi seharag 150 NPR langsung saya sikat membabi buta. Untuk rasa, wah the best lah

Saya sempat melihat foto masjid di restoran itu. Pemilik toko bilang mesjid itu masih berada di Pokhara tapi cukup jauh dari tempat saat itu saya berada. Mereka sedang membuat proyek untuk membuat Madrasah. "Komunitas muslim di Pokhara masih sedikit", jawabnya

Hotel
Kami sebenarnya masih belum tahu mau tinggal dimana. Memang banyak penginapan sepanjang Lakeside. Saking banyaknya membuat kami semakin bingung. Sambil tutup mata pun masih terlihat deretan hotel. Hotel semakin murah jika tidak berada di jalan utama. Pemilik restoran tadi menawarkan penginapan murah milik temannya. Saya pun bertanya berapa harganya. "600 NPR" jawabnya. Awalnya saya pikir harga segitu untuk 1 orang ternyata itu haraga 1 kamar untuk ber 3... murah bener! jadi seorang cuma perlu merogoh kocek 200 NPR. selidik punya selidik, ternyata memang harga kamar rata-rata di Pokhara sekitar 500-1000 NPR tapi ini untuk hotel-hotel sekelas guesthouse. Untuk Hotel-hotel yang bagus, tetep mahal harganya. Fasilitas hotel kami cukup lumayan antara lain Televisi dan Wifi gratis (ini yang paling penting buat laporan ke emak). Hotel ini memeliki 3 lantai dan loteng. Dari loteng kami bisa melihat rentang pegunungan Annapurna namun yang paling terlihat mencolok adalah gunung Machapuchare yang berbentuk seperti ekor ikan.

Kami gunakan malam ini untuk beristirahat dan mempersiapkan segalanya untuk trekking besok. Sedikit berkeliling di Pokhara untuk mencari beberapa perlengkapan yang belum sempat kami bawa. "Besok adalah harinya" ucapku.

"We are ready for Annapurna Base Camp"


No comments:

Post a Comment